makalah gunung kelud
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar
Belakang Gunung api ini termasuk dalam tipe stratovulkan dengan karakteristik
letusan eksplosif. Seperti banyak gunung api lainnya di Pulau Jawa, Gunung
Kelud terbentuk akibat proses subduksi lempeng benua Indo-Australia terhadap
lempeng Eurasia. Sejak tahun 1300 Masehi, gunung ini tercatat aktif meletus
dengan rentang jarak waktu yang relatif pendek (9-25 tahun), menjadikannya
sebagai gunung api yang berbahaya bagi manusia. Kekhasan gunung api ini adalah
adanya danau kawah (hingga akhir tahun 2007) yang membuat lahar letusan sangat
cair dan membahayakan penduduk sekitarnya. Akibat aktivitas tahun 2007 yang
memunculkan kubah lava, danau kawah nyaris sirna dan tersisa semacam kubangan
air. Puncak-puncak yang ada sekarang merupakan sisa dari letusan besar masa
lalu yang meruntuhkan bagian puncak purba. Dinding di sisi barat daya runtuh
terbuka sehingga kompleks kawah membuka ke arah itu. Puncak Kelud adalah yang
tertinggi, berposisi agak di timur laut kawah. Puncak-puncak lainnya adalah
Puncak Gajahmungkur di sisi barat dan Puncak Sumbing di sisi selatan. Peristiwa
meletusnya Gunung Kelud, Jawa Timur, mendapatkan perhatian luas dari dunia
internasional. Sejumlah media massa dan kantor berita asing memberitakan
peristiwa bencana alam tersebut. Letusan Gunung Kelud kali ini tercatat
menimbulkan dampak yang cukup parah bagi kawasan sekitarnya, seperti Kabupaten
dan Kota Kediri, Blitar, dan Kabupaten Malang. Bencana ini mengakibatkan 35
kelurahan dan tiga kecamatan tertutup abu tebal. Diperkirakan sebanyak 200 ribu
jiwa harus mengungsi dari tempat tinggalnya. Dengan demikian alas an kami
mengangkat tema tersebut adalah untuk member wawasan pada pambaca agar dapat
menyikapinya dengan bijak jika terjadi letusan Gunung Kelud. 1.2. Rumusan Masalah
a. Bagaimana sejarah Gunung Kelud? b. Bagaimana erupsi Gunung Kelud? c.
Bagaimana keindahan dan kebudayaan Gunung Kelud? 1.3. Tujuan Makalah a. Untuk
mengenal tentang Gunung Kelud b. Untuk mengetahui sejarahnya Gunung Kelud c.
Sebagai penambah wawasan bagi pembaca BAB II PEMBAHASAN 2.1. Sejarah Gunung
Kelud Gunung Kelud merupakan gunungapi strato andesitik yang tergolong masih
aktif, terletak di Jawa Timur . Letusan 1586 merupakan letusan yang paling
banyak menimbulkan korban jiwa yaitu sebanyak 10.000 orang meninggal. Selama
abad 20 telah terjadi 5 kali letusan masing masing pada tahun 1901, 1919, 1951,
1966 dan 1990 dengan jumlah korban jiwa seluruhnya mencapai 5400 jiwa. Letusan
tahun 1901 Letusan Gunung Kelud terjadi pada tengah malam antara tanggal 22 dan
23 Mei 1901. Letusan pertama terjadi sekitar pukul 00.00 – 01.00. Selama dua
jam aktivitas erupsi semakin meningkat dan pada pukul 03.00 letusan utama
terjadi. Asap letusan pekat membumbung dari kawah Kelud, kemudian hujan lapilli
mulai terjadi di sekitar Kelud. Segera setelah lapilli jatuh, diikuti dengan
debu basah dan lumpur. Kejadian selanjutnya berupa hujan abu panas. Di Kediri
abu panas mulai turun sekitar pukul 03.30 dan bau belerang tercium di segala
tempat. Letusan terdengar sampai jarak jauh bahkan sampai di Pekalongan.
Distribusi hujan abu sampai mencapai Sukabumi dan Bogor. Letusan Mei 1901 ini
terjadi setelah selang waktu sekitar 37 tahun masa tenang yaitu sejak letusan
tahun 1864. Letusan ini terjadi masih berada di dalam kawah Kelut dan tidak
mengakibatkan hancurnya dinding kawah. Informasi yang diperoleh menjelang
letusan bahwa sekitar 12 hari sebelum letusan terlihat air danau kawah Kelut
mendidih. Zona pendidihan tersebut membentuk lingkaran besar di permukaan danau
kawah. Pada saat letusan sebagian air danau kawah terlemparkan. Diperkirakan
terdapat volume air danau kawah sekitar 38 juta meter kubik sebelum letusan.
Material padat yang dilemparkan gunung Kelut selama letusan kira- kira 200 juta
meter kubik. Korban jiwa cukup banyak namun informasi tentang jumlahnya tidak
jelas. Pada tanggal 11 Juli 1907 dilakukan penggalian di lereng barat untuk
mengurangi volume air danau kawah, namun demikian air danau kawah hanya
berkurang setinggi 7,4 meter atau pengurangan volume sebesar 4,3 juta meter
kubik. Letusan tahun 1919 Letusan tahun 1919 merupakan bencana terbesar yang
dihasilkan oleh aktivitas gunung Kelut pada abad ke 20, yang mengakibatkan
sekitar 5160 orang meninggal. Letusan terjadi pada tengah malam antara tanggal
19 dan 20 Mei 1919 yang ditandai dengan suara dentuman amat keras bahkan
terdengar sampai di Kalimantan. Sekitar pukul 01.15, terdengar suara gemuruh
yang sangat keras dari arah gunung Kelut . Diperkirakan pada saat itulah
terjadi letusan utama. Beberapa saat kemudian hujan abu mulai turun. Selain
hujan abu, di daerah perkebunan di lereng Kelut terjadi hujan batu dan kerikil.
Di Darungan hujan batu cukup hebat sehingga sebagian besar atap rumah hancur.
Hujan abu menyebar akibat tiupan angin terutama ke arah timur. Di Bali hujan
abu terjadi pada tanggal 21 Mei 1919. Dari perhitungan endapan abu dapat
ditaksir bahwa sekitar 284 juta meter kubik abu terlemparkan, jumlah ini setara
dengan sekitar 100 juta meter kubik3 batuan andesit. Secara keseluruhan
diperkirakan 190 juta meter kubik material telah keluar dari perut gunung
Kelud. Bencana letusan Gunung Kelud itu sendiri berasal dari kejadian lahar
panas yang menyertainya. Sebelum letusan, volume air danau kawah mencapai 40
juta meter kubik, air sejumlah itu terlempar keluar kawah pada saat letusan.
Lahar yang terbentuk merupakan lahar primer yang terjadi secara langsung oleh
air danau kawah yang tertumpahkan pada saat letusan . Sekitar pukul 01.30
aliran lahar yang merupakan campuran dari air panas, lumpur, pasir, batu-
batuan memasuki kota Blitar menciptakan kehancuran yang hebat. Kecepatan lahar
yang mengalir di kota Blitar sekitar 18 m/detik atau sekitar 65 km/jam. Jarak
maksimum aliran lahar primer mencapai 37,5 km (dihitung dari puncak Kelut).
Letusan 1919 ini mengakibatkan 104 desa rusak berat, kerusakan
sawah,tegal,pekarangan dan perkebunan kopi,tebu dan ketela mencapai 20.200 bau
(5050 hektar) dan korban binatang sebanyak 1571 ekor. Bencana letusan 1919
memberikan pelajaran bagi pemerintah saat itu untuk mengurangi volume air yang
ada di danau kawah. Dari pengamatan yang dilakukan antara tahun 1901 sampai
1905, diperkirakan air yang masuk ke danau kawah mencapai rata- rata 6,5 juta
meter kubik3 per tahun. Air yang cukup banyak yang selalu menjadi jaminan bahwa
kawah Kelut akan selalu menjadi danau itu harus dikeluarkan sehingga volume air
akan terjaga pada volume yang tetap kecil. Mulai tahun 1920 dibangun terowongan
pembuangan air dengan panjang sekitar 980 meter dan garis tengah 2 meter.
Terowongan tersebut di buat mulai dari kawah menuju barat untuk mengalirkan air
danau kawah ke Kali Badak, namun demikian kecelakaan yang disebabkan oleh
runtuhnya dinding kawah menyebabkan pekerjaan pembuatan terowongan dihentikan
pada tahun 1923. Pekerjaan kontruksi terowongan akhirnya selesai tahun 1924.
Dengan adanya terowongan tersebut, ketinggian air dapat dikurangi sebesar 134,5
m dengan volume tersisa hanya sebesar 1,8 juta meter kubik. Letusan tahun 1951
Dua kali gempa terasa terjadi sekitar 3 minggu sebelum letusan. Letusan terjadi
pada tanggal 31 Agustus 1951. Pukul 06.15 terlihat asap tebal berwarna putih
keluar dari puncak Kelut. Makin lama makin besar dan disertai dengan suara
gemuruh. Beberapa saat kemudian, sekitar pukul 06.30, terdengar suara letusan.
Sesaat terlihat asap tebal kehitaman membumbung dari kawah Kelut condong ke
selatan. Sekitar 4 suara dentuman terdengar dari Wlingi. Tiga puluh menit
kemudian di Margomulyo terjadi hujan batu sebesar buah mangga dan abu.
Pandangan mata hanya dapat mencapai 3 – 4 meter. Informasi dari Candisewu
menyebutkan hujan batu yang berlangsung sekitar 1 jam, disamping itu juga
terasa gempa sebanyak 2 kali. Abu tercatat turun sampai di Bandung. Pengamatan
menyebutkan bahwa pada saat letusan terjadi angin kencang ke arah barat.
Diperkirakan sekitar 200 juta meter kubik material dilontarkan selama letusan.
Sebab terowongan telah dibangun maka volume air danau kawah sebelum letusan
hanya sekitar 1,8 juta meter kubik. Pada saat letusan, air tersebut sebagian
besar diuapkan dan tidak mengalir sebagai lahar primer besar. Kejadian lahar
besar sebagaimana pada letusan 1919 tidak terjadi. Lahar kecil hanya mencapai
jarak maksimal sekitar 12 km jauh lebih kecil dari lahar primer 1919 yang
mencapai jarak maksimal sekitar 37 km. Terdapat korban letusan sebanyak 7 orang
meninggal, tiga diantaranya adalah pegawai Dinas Vulkanologi yang bertugas
yaitu Suwarnaatmadja, Diman dan Napan. Sedangkan yang luka-luka sebanyak 157
orang. Sekitar 320 hektar areal perkebunan dan kehutanan rusak. Gejala
menjelang letusan telah diamati sebelumnya yaitu suhu air kawah naik dari
sekitar 28°C pada bulan Pebruari 1951 menjadi sekitar 40,8°C pada bulan Agustus
1951. Kenaikan suhu air tersebut berlanagsung dalam dua tahaap secara perlahan
dari bulan Pebruari ke pertengahan Agustus (dari 28°C – menjadi 38,5°C) namun
terjadi kenaikan suhu air yang cepat mulai tanggal 19 Agustus 1951 dan mencapai
40,8°C pada tanggal 24 Agustus, sekitar seminggu sebelum letusan. Pada keadaan
suhu maksimal tersebut warna air danau mulai berubah dari hijau tua ke hijau
muda kekuningan. Gelembung dan bualan bertambah banyak dan semakin melebar.
Penurunan suhu air tercatat pada tanggal 26 Agustus. Diperkirakan, karena tidak
ada data sesudahnya sampai kejadian letusan terjadi penurunan secara
pelan-pelan sejak tanggal 25 Agustus. Letusan tahun 1966 Sesudah letusan tahun
1951, dasar kawah baru lebih rendah 79 meter dari pada dasar kawah sebelumnya.
Penurunan dasar kawah ini menyebabkan volume air danau mencapai sekitar 21,6
juta meter kubik sebelum letusan 1966. Volume ini jauh lebih besar dari volume
air sebelum letusan 1951 yang hanya 1,8 juta meter 3. Letusan terjadi pada
tanggal 26 April 1966 pukul 20.15 yang menyebabkan terjadinya lahar pada alur
K.Badak, K.Putih, K.Ngobo, K.Konto, dan K.Semut. Korban manusia berjumlah 210
orang di daerah Jatilengger dan Atas Kedawung. Letusan ini menghasilkan tephra
sekitar 90 juta meter 3. Seismograf yang berada di Pos Margomulyo mencatat
gempa pada 15 menit menjelang letusan. Warna air danau menjelang letusan juga
berubah, dimana sebulan sebelum letusan air yang semula berwarna hijau tua
berubah menjadi hijau kekuningan dan perubahan tersebut merata di seluruh
permukaan kawah. Dua hari menjelang letusan teramati bahwa warna air berubah
kembali seperti semula. Perkembangan perubahan suhu air kawah tidak teramati
demikian pula tumbuhan di sekitar mulut kawah tetap segar saat menjelang
letusan. Letusan tahun 1990 Letusan terjadi pada tanggal 10 Februari 1990,
letusan ini merupakan kejadian letusan G.Kelut yang dipantau dengan seksama
oleh Direktorat Vulkanologi yang tergabung dalam suatu tim khusus yang disebut
sebagai Tim Vulkanik G.Kelut. Pemantauan yang dilakukan menggunakan berbagai
metoda yaitu seismik, pengukuran suhu, geolistrik potensial diri, dan
pemantauan visual EDM dan Tiltmeter. Volume air danau yang hannya sekitar 1,8
juta meter kubik merupakan faktor yang membuat tidak terjadinya lahar panas
pada letusan kali ini. Sebagaimana pada letusan 1951 volume air yang kecil
tersebut teruapkan ketika terjadi letusan. Letusan terjadi secara beruntun
mulai pukul 11.41 sampai 12.21 wib. Tahap awal dari letusan merupakan fase
freatomagmatik yang mengakibatkan sebaran abu tipis di sekitar puncak,
sedangkan letusan berikutnya lebih besar dengan lemparan pasir, lapilli, dan
batu yang tersebar pada radius 3,5 km 2 . Jarak jangkau 1,5 km ke arah timur
dan sekitar 5 km ke arah barat, barat laut dan barat daya. Letusan utamanya
berupa letusan plinian dengan awanpanas menyusuri lembah di baratdaya sejauh 5
km dari kawah. Letusan tersebut berintensitas sedang dengan tephra sekitar 130
juta meter 3. Daerah yang rusak tidak terlalu luas, hanya dalam jangkauan
radius sekitar 2 km dari kawah, namun demikian sebaran abu letusan jauh lebih
luas dan diperkirakan mencapai luasan sekitar 1700 km 2. Kerusakan rumah
penduduk dan fasilitas publik pada umumnya disebabkan oleh hujan abu tersebut.
Sekitar 500 rumah dan 50 gedung sekolah rusak, kerusakan terjadi dalam isopach
10 cm yaitu pada jarak maksimum sekitar 15 km dari puncak, korban manusia tercatat
32 orang. Gejala menjelang letusan teramati pada bulan November 1989 yaitu
adanya peningkatan suhu air danau kawah dari sekitar 31 - 34° C menjadi sekitar
35° C. Suhu permukaan air danau kawah ini secara rata- rata mengalami
peningkatan terus sampai saat terjadinya letusan, bahkan sampai sekitar 41° C
menjelang letusan. Warna air danau kawah berubah dari hijau muda jernih menjadi
hijau muda agak putih. Tingkat keasamaan air danau meningkat dari pH sekitar
5,5 – 6 pada bulan Oktober 1989 berangsur semakin asam sampai mencapai pH 4,2
pada bulan Januari 1990. Peningkatan aktivitas seismik mulai terlihat pada
tanggal 9 November 1989, yang ditandai dengan kenaikan jumlah Gempa Vulkanik
yang biasanya kurang dari satu kejadian perhari menjadi 9 kejadian Gempa Vulkanik
perhari pada tanggal 9 November 1989. Kemudian pada tanggal 20 November 1989
gempa vulkanik bahkan tercatat sebanyak 40 kali. Jumlah gempa harian kemudian
mengalami penurunan dari tanggal 22 November sampai minggu pertama Januari
1990. Secara rata- rata penurunan tersebut terjadi dari sekitar 12 gempa per
hari pada sekitar tanggal 27 November 1989 sampai hanya sekitar 1-2 gempa per
hari pada awal Januari. Penurunan kejadian gempa ini diakhiri dengan munculnya
tremor antara tanggal 3 – 9 Januari 1990. Kejadian tremor ini yang mengakhiri
kecenderungan penurunan dan juga menjadi awal peningkatan secara mencolok
aktivitas kegempaannya. Dari tanggal 14 januari sampai 21 januari merupakan
episode dimana aktivitas gempa vulkanik cukup intensif. Tanggal 22 Januari
sampai 8 Februari merupakan periode tenang. Gempa vulkanik tidak lebih dari 5
gempa per hari. Pada periode ini terjadi peningkatan derau akustik di dalam
danau kawah . Intensitas derau meningkat sekitar 4 kali lipat dari rata- rata
ambang sebelumnya. Kejadian letusan diawali dengan munculnya swarm gempa
vulkanik pada tanggal 9 Februari pada pukul 12.17 wib. Secara cepat gempa
meningkat dan pada tanggal 10 Februari muncul tremor vulkanik pada pukul 09.32
dengan amplitudo yang semakin membesar dan berlanjut pada kejadian letusan.
Aktivitas gunung ini meningkat pada akhir September 2007 dan masih terus
berlanjut hingga November tahun yang sama, ditandai dengan meningkatnya suhu
air danau kawah, peningkatan kegempaan tremor, serta perubahan warna danau kawah
dari kehijauan menjadi putih keruh. Status “awas” (tertinggi) dikeluarkan oleh
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi sejak 16 Oktober 2007 yang
berimplikasi penduduk dalam radius 10 km dari gunung (lebih kurang 135.000
jiwa) yang tinggal di lereng gunung tersebut harus mengungsi. Namun letusan
tidak terjadi. Setelah sempat agak mereda, aktivitas Gunung Kelut kembali
meningkat sejak 30 Oktober 2007 dengan peningkatan pesat suhu air danau kawah
dan kegempaan vulkanik dangkal. Pada tanggal 3 November 2007 sekitar pukul
16.00 suhu air danau melebihi 74 derajat Celsius, jauh di atas normal gejala
letusan sebesar 40 derajat Celsius, sehingga menyebabkan alat pengukur suhu
rusak. Getaran gempa tremor dengan amplitudo besar (lebih dari 35mm)
menyebabkan petugas pengawas harus mengungsi, namun kembali tidak terjadi
letusan. Akibat aktivitas tinggi tersebut terjdi gejala unik yang baru terjadi
dalam sejarah Kelut dengan munculnya asap putih dari tengah danau diikuti
dengan kubah lava dari tengah-tengah danau kawah sejak tanggal 5 November 2007
dan terus “tumbuh” hingga berukuran selebar 100m. Para ahli menganggap kubah
lava inilah yang menyumbat saluran magma sehingga letusan tidak segera terjadi.
Energi untuk letusan dipakai untuk mendorong kubah lava sisa letusan tahun
1990. Sejak peristiwa tersebut aktivitas pelepasan energi semakin berkurang dan
pada tanggal 8 November 2007 status Gunung Kelud diturunkan menjadi “siaga”
(tingkat 3). 2.2. Erupsi Gunung Kelud Aktivitas letusan umumnya dimulai dengan
suatu ledakan freatik yang diikuti oleh suatu letusan plinian pendek/singkat
dengan kolom kerucut terbalik yang mencapai ketinggian dari lebih dari 10 km.
Letusan ini yang memproduksi lahar yang merusak, serta letusan piroklastik yang
memproduksi abu vulkanik (lihat gambar 1 dan 2). Sebaran abu vulkanik pada
letusan 1901 dan 1919 dari gunung api Kelud. Diadaptasikan Dari Kemmerling (
1921). Pada letusan 1919, abu vulkanik terbagi dua. Awan abu yang berketinggian
lebih rendah tersebar ke timur sampai sejauh Bali dan awan abu yang lebih
tinggi tersebar ke Barat. Sebaran abu vulkanik dari letusan 1990 (Bourdier et
al., 1997). Abu ini menghancurkan lebih dari 500 rumah. atap yang runtuh adalah
penyebab utama kematian (total 32 orang) pada letusan ini. ( GVN Bull. 1990, Bourdier
et al. 1997). Lahar primer (lahar setelah letusan) sangat sering terjadi pada
Kelud dan diproduksi oleh ledakan yang hebat dari perairan dari danau
kawah/kepundan. Tetapi Kelud juga cenderung menghasilkan lahar sekunder (i.e.
tidak secara langsung berhubungan dengan suatu letusan) karena lereng gunung
mudah tergerus oleh hujan yang melimpah dan oleh karena kehadiran dari material
pyroclastic yang melimpah dan lepas ( Thouret et al, 1998). Area yang paling
terekspos adalah lereng barat ( lahar Gedok) dan barat daya ( lahar Badak)
karena dinding kepundan yang lebih rendah di sisi barat. Lahar primer sangat
merusak dan mengakibatkan sebagian besar kematian sampai volume dari danau
dikurangi oleh suatu sistem drainase. Sebelum 1875, volume dari perairan danau
mencapai sekitar 78 juta m3. Tahun 1875, suatu bencana yang tidak berhubungan
dengan aktivitas vulkanis terjadi. Hujan lebat menjebol lubang kepundan
mengakibatkan air danau tumpah ke lereng barat daya menghasilkan lahar
sepanjang 13 km yang merusak wilayah Srengat. Setelah bencana ini, volume dari
danau dikurangi menjadi 40 juta m3. Pada tahun 1905, suatu tanggul dibangun
oleh administrasi lokal Belanda sepanjang sungai Badak untuk mengalihkan lahars
ke kota Blitar. Ketika letusan yang berikutnya terjadi, tanggul ini terbukti
tidak efektip dengan dihanyutkan oleh lahar letusan 1919. Lahar 1919 yang
menempuh perjalanan sejauh 38 kilometer kurang dari suatu jam dan menghancurkan
suatu wilayah lebih dari 15,000 hektar, membinasakan ratusan kampung dan membunuh
5160 orang. Letusan yang dramatis pada bulan Mei 1919 ini mendasari Survey
Vulkanologi untuk memutuskan tugas yang pertama untuk mengalirkan air danau
kawah melalui suatu terowongan. Pekerjaan engineering dimulai pada September
1919 dan perlu beberapa tahun untuk diselesaikan. Rencana awal adalah menggali
suatu terowongan sepanjang 955m. Ketika pekerjaan dimulai, danau kawah masih
kering dan penggalian terowongan dimulai dari kedua sisi dari dinding kawah
(Bemmelen van, 1949). Oleh karena temperatur yang tinggi yang di area kerja
penggalian (46°C), terowongan waktu itu belum diselesaikan di 1923. Pada waktu
itu danau kawah telah separuh penuh (22 juta m3). Suatu banjir lumpur dan
kerikil yang mendadak memenuhi terowongan membunuh lima pekerja, sehingga
pekerjaan dihentikan. Rencana baru diputuskan untuk menurunkan level danau
secara progresif dengan pengeboran 7 terowongan paralel dan menggunakan suatu
pipa sifon untuk mengalirkan air danau. Pekerjaan ini akhirnya diselesaikan th
1926 dan sukses menurunkan volume danau sampai kurang dari 2 juta m3. Kelud
mungkin merupakan salah satu yang pertama dan contoh yang paling ambisius dari
suatu pekerjaan rancang-bangun yang dibuat di suatu gunung api untuk mengurangi
ancaman dari suatu danau kawah. Letusan 1951 menghasilkan kerusakan kecil. Jika
dibandingkan dengan bencana 1919, lahar menempuh jarak maksimum 6.5 km. Tetapi,
letusan ini memperdalam dan memperlebar lubang kawah sehingga ketika letusan
1966 terjadi, volume dari air di danau kawah yang telah naik ke lebih dari 23
juta m3. Setelah letusan 1966, suatu terowongan yang baru dibangun 45 m di
bawah lubang yang paling rendah terdahulu dan volume dari air danau berkurang
lagi menjadi 2.5 juta m3. Beberapa dam dan sabuk juga dibangun pada lereng
gunung untuk mengurangi penyebaran lahar. Tidak ada lahar primer diproduksi
oleh letusan plinian 1990 tetapi sedikitnya terjadi 33 lahar setelah letusan
sampai sejauh 24 km dari kawah ( Thouret et al, 1998). Variasi kontur kawah
Kelud 2.3. Keindahan dan Kebudayaan Pada Gunung Kelud Gunung Kelud menurut
legendanya bukan berasal dari gundukan tanah meninggi secara alami. Seperti
Gunung Tangkuban Perahu di Jawa Barat,Gunung Kelud terbentuk dari sebuah
pengkhianatan cinta seorang putri bernama Dewi Kilisuci terhadap dua raja sakti
mahesa Suro dan Lembu Suro. Kala itu, Dewi Kilisuci anak putri Jenggolo Manik
yang terkenal akan kecantikannya dilamar dua orang raja. Namun yang melamar
bukan dari bangsa manusia, karena yang satu berkepala lembu bernama Raja Lembu
Suro dan satunya lagu berkepala kerbau bernama Mahesa Suro.Untuk menolak
lamaran tersebut,Dewi Kilisuci membuat sayembara yang tidak mungkin dikerjakan
oleh manusia biasa, yaitu membuat dua sumur di atas puncak gunung Kelud, yang
satu harus berbau amis dan yang satunya harus berbau wangi dan harus selesai
dalam satu malam atau sampai ayam berkokok. Akhirnya dengan kesaktian Mahesa
Suro dan Lembu Suro, sayembara tersebut disanggupi. Setelah berkerja semalaman,
kedua-duanya menang dalam sayembara. Tetapi Dewi Kilisuci masih belum mau
diperistri. Kemudian Dewi Kilisuci mengajukan satu permintaan lagi. Yakni kedua
raja tersebut harus membuktikan dahulu bahwa kedua sumur tersebut benar benar
berbau wangi dan amis dengan cara mereka berdua harus masuk ke dalam sumur.
Terpedaya oleh rayuan tersebut, keduanyapun masuk ke dalam sumur yang sangat
dalam tersebut. Begitu mereka sudah berada di dalam sumur, lalu Dewi Kilisuci
memerintahkan prajurit Jenggala untuk menimbun keduanya dengan batu. Maka
matilah Mahesa Suro dan Lembu Suro. Tetapi sebelum mati Lembu Suro sempat
bersumpah dengan mengatakan. ÓYoh, wong Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku
sing makaping kaping yoiku. Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar,
Tulungagung bakal dadi Kedung. (Ya, orang Kediri besok akan mendapatkan
balasanku yang sangat besar. Kediri bakal jadi sungai, Blitar akan jadi daratan
dan Tulungagung menjadi danau. Dari legenda ini akhirnya masyarakat lereng
Gunung kelud melakukan sesaji sebagai tolak balak sumpah itu yang disebut
Larung Sesaji. sebagai salah satu warga dari desa wisata tersebut, saya ingin
mengenalkan Keindahan Kelud yang merupakan tanah tumpah darah saya. Karena
disinilah saya dilahirkan, kemudian tumbuh, menjalani hari-hari sebagai anak
desa, sebagai anak petani, tapi justru disinilah surga dunia buat saya, semoga
pembaca bisa merasakan hal yang sama. berikut beberapa kebudayaan yang
tersimpan pada gunung kelud : Nyadran, adalah sebuah tradisi yang masih di
pertahankan oleh masyarakat Desa Sugihwaras Yang umumnya adalah masyarakat
kelud, yang masih mempercayai adanya danyang Desa , sehingga setiap masyarakat
akan mengadakan hajat (Mantu,khitanan,panen melimpah) atau punya nadar
masyarakat kelud mengadakan nyadaran ke danyang Desa, ada dua tempat yang ada
di desa Sugihwaras sebagai tempat nyadaran yaitu, Danyangan Mbah Sumber,
Danyangan Mbah Ringin. Ritual Sesaji Gunung Kelud merupakan tradisi tahunan
masayarakat kelud terutama masyakat Desa Sugihwaras Sebagai tuan rumah dan
masyarakat Lima Desa Yang ada di seputaran gunung kelud yaitu masyarakat Desa ,
Babadan, Pandantoyo, Sempu, dan Ngancar, ritual sesaji gunung kelud di
selenggarakan setiap bulan suro (Penganggalan jawa) Tujuan dari acara ini
adalah ungkapan rasa sukur masyarakat kelud kepada tuhan yang maha Esa , yang
telah memberikan keselamatan dan anugerah berupa alam yang subur gemah ripah
loh jinawi kepada masyarakat kelud. Acara yang di selenggarakan setiap satu
tahun ini selalu rame di kunjungi wisatawan, karena di dalam acara ritual
sesaji Gunung kelud , ada banyak pementasan kesenian tradisional. beberapa
tempat yang saya sarankan untuk jgn di lewatkan jika berkunjung ke gunung kelud
: goa belanda Gunung/ Tebing Sumbing anak gunung kelud pemandian air panas di
wisata anak gunung kelud kita akan di sambut dengan iringan lgu gamelan dan
kuda lumping yang di mainkan oleh warga-warga sekitar. BAB III PENUTUP 3.1.
Kesimpulan Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa bencana letusan Gunung
Kelud itu sendiri berasal dari kejadian lahar panas yang menyertainya. Sebelum
letusan, volume air danau kawah mencapai 40 juta meter kubik, air sejumlah itu
terlempar keluar kawah pada saat letusan. Lahar yang terbentuk merupakan lahar
primer yang terjadi secara langsung oleh air danau kawah yang tertumpahkan pada
saat letusan . Sekitar pukul 01.30 aliran lahar yang merupakan campuran dari
air panas, lumpur, pasir, batu- batuan memasuki kota Blitar menciptakan
kehancuran yang hebat. Kecepatan lahar yang mengalir di kota Blitar sekitar 18
m/detik atau sekitar 65 km/jam. 3.2. Saran Pembaca disarankan untuk lebih
banyak meneliti dan mencari tahu gunung – gunung api yang ada dan masih aktif
di Indonesia. Sehingga kita bisa memperluas ilmu pengetahuan kita baik di
sekolah formal maupun non formal.
No comments:
Post a Comment